Generasi Z

Anak-anakku, generasi Z (catatan dari tetralogy seminar supermoms)

Membesarkan anak-anak generasi Z, yang lahir di tahun 2000an, tentu berbeda dengan generasi kita, ayah-bundanya. Saat kita masih kecil, tv yang ada hanya tvri. Tidak ada internet, tv kabel, games, ipad, handphone, blackberry dan lain sebagainya. Jadi kalau kita masih memakai cara yang digunakan orangtua kita dulu untuk mengasuh anak-anak kita sekarang, jelas ga nyambung dong. Atau kalau kata ibu elly risman, “basi lo!!”.

Hari Sabtu, 1 September 2012 yang lalu, saya mengikuti seminar yang diadakan oleh supermoms, dengan tema “Membesarkan anak tangguh di era digital”. Meskipun pernah baca beberapa materi bu Elly Risman dan ga terlalu asing dengan fakta-fakta yang beliau sampaikan, tapi saya tetap shock, kaget dan berkali-kali nangis. Cara Bu Elly menyampaikan materinya, seolah-olah seperti ibu yang menasehati anak, suksesss masuk ke dalam hati dan bikin mata basah. “Tolong jaga cucu-cucu saya ya nak”, katanya beberapa kali, huhuuu gimana ga mewek coba.Anyway, sekarang saya mau coba mencatat poin-poin yang saya tangkep selama seminar. Maaf kalo isinya berantakan dan mungkin panjaaang, tapi saya berharap catatan saya ini bisa bermanfaat untuk orang lain, dan bisa saya baca ulang nanti untuk men-charge semangat saya dalam mengasuh dan membimbing anak-anak.

Bagian pertama, tantangan apa sih yang dihadapi oleh anak-anak kita?

Saat ini ada pihak-pihak yang memang serius menggarap pornografi sebagai bisnis. Bahkan bu Elly berani mengatakan bahwa pornografi adalah terorisme baru di dunia, yang dihadapi oleh semua negara di dunia. Modus operandinya:

Meluangkan waktu, uang dan energi untuk mendekati anak-anak kita.
Menjadi pendengar yang baik, berempati terhadap masalah anak
Anak digoda, dibujuk

Konten seksual

Komunikasi lancar, tatap muka dan akhirnya seks
Bu Elly menampilkan cuplikan diskusi beliau di TVOne dengan seorang ibu yang anaknya dijual oleh tetangga. Menurut ibu tersebut, si anak hanya keluar rumah 2-3 jam di siang hari, jadi ibu berpikir anaknya hanya main-main seperti biasa. Beliau sama sekali ga nyangka bagaimana kelakuan anaknya di luar rumah. Keliatan banget bahwa si ibu masih menggunakan cara pengasuhan 20 tahun yang lalu (serba percaya, cukup tanya sepintas, otoriter, dsb), dan tentu saja cara itu tidak bisa dipakai di generasi z.

Quotes pertama, JANGAN PERNAH MERASA ANAK KITA AMAN DAN TERKENDALI, never take it for granted. Mungkin rumah kita sudah aman, bagaimana dengan tetangga? Saudara? Teman sekolah? Kita dituntut untuk selalu waspada, bersikap proaktif, dan pahami bahwa apa yang dihadapi oleh anak-anak kita di lingkungannya sangat luar biasa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati bulan Januari-Juni 2012 dengan 1176 responden anak kelas 4-6 SD, ternyata 85% responden atau 1000 anak pernah liat pornografi. Yup, silahkan pingsan dulu bentar *ambil air putih*. Jangan salah, responden ini anak-anak dari lingkungan baik looh, yang sekolah di SD yang bagus dan ternama, bukan anak-anak jalanan *semoga Allah melindungi mereka, hiks*. Jadi, masih menganggap anak-anak kita aman? Yakiiin?? *pingsan part 2*

Sebenarnya, sebagian besar anak-anak melihat konten pornografi diawali secara tidak sengaja (78%). Tapi tentu saja yang kita khawatirkan adalah, pengaruh dari ketidak sengajaan itu. Awalnya ga sengaja, terus jadi doyan, lama-lama kecanduan gimana? Oia, dimana sih anak2 melihat konten pornografi? 40% mengatakan di rumah sendiri atau rumah teman. Yak silakan yang pasang wifi di rumahnya untuk pingsan di pojokan sana. Sisanya lihat dimana? Ada warnet, bioskop, dan lain-lain yaitu dari hp supir, hp mama, bbg mama, weksssss……

Darimana sih konten pornografi itu mereka dapet? Dari internet, games, tv, komik, bioskop, dsb. Makanya qt harus bisa keep up dengan pergaulan anak-anak kita. Pastikan semua buku, komik, film dan semua yang dikonsumsi oleh anak kita aman. Kalau kita memang mengizinkan anak kita main games tertentu, pastikan kita juga pernah main games itu sampai tamat. Jangan salah yaa, ada loh games balap mobil yang hadiahnya adalah pemain bisa ngebooking cewe. Gimana dengan kartun? Oh jangan salah, kalo kita googling naruto, banyak situs-situs ga beres yang pake nama ini.

Film bioskop? Mungkin film yang kita tonton aman karena udah hasil seleksi, tapi gimana dengan poster-poster yang mereka lihat? Yang gambarnya sudah mengarah ke pornografi?. Belum lagi sinetron tv yang tambah parah, iklan, dan lain sebagainya yang cuplikannya diperlihatkan dan bikin saya bingung. “Itu yang bikin film ga punya dan ga akan pernah punya anak apaa??!!!”

Kenapa sih akses terhadap pornografi kok gampang banget? Well, karena memang ada orang yang menggarap secara serius dan menganggap pornografi sebagai industri. Jangan salah, industri pornografi adalah industri terbesar kedua di dunia setelah senjata ilegal, biasanya susul-menyusul dengan narkoba. Jadi jumlah uang diputar di industri pronografi ini memang luar biasa besarnya.

Ini yang mereka inginkan:

1. Anak punya perpustakaan porno.

Misalnya diawali dengan anak yang tidak sengaja membeli komik yang ada konten porno, sehingga tanpa sadar anak memiliki perpustakaan pornografi di otaknya yang bisa diakses kapan saja. Bu Elly mencontohkan seperti kita ditanya soal matematika kali bagi tambah kurang yang dengan lancar kita jawab. Naah, itu karena kita sudah punya perpustakaan matematika di otak kita. Bayangkan kalau anak juga memiliki perpus pornografi, setiap saat dia bisa mengulang gambar yang ada di otaknya. Saat di sekolah, di mobil, saat solat, bahkan sebelum tidur pun anak bisa bolak-balik mengákses’ konten porno, naudzubillahimindzalik…..

Quotes kedua, TARGET UTAMA PORNOGRAFI ADALAH ANAK YANG BLASTED, Boring, Lonely, Angry/Afraid, Stress and Tired. Pendidikan dan pengasuhan anak tidak bisa disubkontrak-in ke orang lain!! Jangan sampai anak-anak kita berayah ada berayah tiada, beribu ada beribu tiada. *mewek to the max, ambil tisu *

2. Rusak otak secara permanen

Anak yang kecanduan pornografi rusak otaknya di bagian pre frontal cortex, yaitu bagian otak dimana moral dan nilai dibentuk. Shortly, ini yang membedakan kita sama binatang. Bagian PFC ini baru matang di umur 25 tahun, sehingga apabila rusak di usia dini karena pornografi, seumur hidupnya dia ga akan bisa bahagia kecuali dengan seks.

Kenapa bisa rusak? Karena saat mengakses pornografi, keluar hormon dopamin yang membuat merasa bahagia, tapi juga membuat kecanduan. Analoginya, orang yang kecanduan es krim awalnya bisa dipuaskan dengan walls, tapi selanjutnya dia menuntut lebih dan baru bisa dipuaskan dengan es krim baskin robbins, selanjutnya es krim haagen daaz dst. Pada anak yang kecanduan pornografi, awalnya dia cukup puas hanya melihat, selanjutnya dia menuntut lebih dan lebih dan lebih, ngeri kan?? *kekepin anak kuat-kuat*

Gini loh tahapannya:

Bagian otak responder minta dipuaskan
Anak, awalnya shock melihat pornografi –> keluar hormon dopamin –> senang –> anak BLASTED –> melihat lagi –> feel better dst
Pornografi terus-terusan melatih bagian otak responder
Akhirnya direktur tidak optimal
Cara kerja otak, you use it or loose it. Karena anak terus-terusan memakai bagian otak responder, akhirnya bagian direktur (PFC) jadi mengecil dan fungsi terganggu.

3. Menjadi pelanggan seumur hidup alias captive market

Inilah yang diharapkan oleh orang-orang di industri pornografi. Saat anak kecanduan dan pornografi dan membeli semua produk yang mereka tawarkan. Kurang lebih sama seperti orang yang kecanduan narkoba. Awalnya kan dikasih sampel gratis, lama-lama kecanduan, dan akhirnya over dosis. Saat anak merasakan ejakulasi 33-36 x karena pornografi, maka bagian otaknya rusak secara permanen. Selamanya dia tidak akan bahagia selain karena seks. Selamanya dia akan menjadi pelanggan pornografi.

spechless

pingsan

…..

Oke, sampai disini ibu mana sih yang ga jadi paranoid?? Saya sendiri ngerasa takut dan ngeri banget. Bukan hanya bayangan Ayesha dan Alena yang ada di pelupuk mata, tapi saya langsung kebayang wajah ponakan-ponakan saya yang usia SD, teman sekolah Ayesha yang masih kecil sudah dikasih bb oleh ortunya, terbayang anak-anak tetangga yang kecil-kecil udah terbiasa ke warnet tanpa pengawasan, anak sepupu-sepupu saya yang sangat fasih menggunakan ipad, smartphone dsb. Di sisi lain, terbayang tontonan tv yang parah, pemerintah yang lamban memberantas pornografi dan tidak punya sense yang bagus terhadap pendidikan dan pengasuhan anak. Hiks hiks, langsuuuung deh mewek to the max…… *coba diitung, sampe sini aja udah berapa kali saya nangis, hehee*

Bagian kedua, jadi apa dong yang mesti kita lakukan?

Meskipun ngeri dan takut, tapi jangan sampai kita jadi putus asa dong, pastinya ada yang bisa kita lakukan agar bisa mendidik anak yang tangguh di tengah tantangan digital ini. Yang pertama, you are the best therapist!! Kitalah yang (harusnya) paling mengenal anak-anak kita. Yang kedua, keep in mind that anak-anak yang kita asuh adalah anak generasi z, dengan karakteristik multitasking, tata nilai berbeda, semua cepat, instan, menantang dan menyenangkan. Untuk itu, kita perlu mendiskusikan pola pengasuhan yang digunakan.

Quotes ketiga, TETAPKAN TUJUAN PENGASUHAN. Main bola aja ada gawang sebagai tujuan, masa mengasuh anak tidak ada tujuannya?

Menurut bu Elly, begini langkah-langkah untuk menetapkan pola pengasuhan

Rumuskan tujuan pengasuhan

Ortu mengenali kelebihan dan kekurangan diri masing-masing
Sepakat dan melakukan dual parenting. Hal ini membutuhkan waktu, cara dan konsekuensi yang spesifik.

Dalam menetapkan pola pengasuhan ini, orangtua harus jujur dengan pasangan, sehingga bisa saling melengkapi. Misalnya, kalo istri yang lebih rajin cari info soal parenting, maka suami ga boleh protes kalo tiba-tiba dikasih materi atau didaftarin seminar. Sebaliknya, kalo suami yang lebih sabar, maka saat si ibu sedang emosi, ayahlah yang in charge mengasuh anak-anak.

Kalau yang dishare oleh bu Elly, setidaknya ada 4 tujuan pengasuhan, yaitu mendidik anak agar memenuhi karakteristik berikut:

Anak yang soleh
Calon pasangan yang baik
Calon ayah/ibu yang baik
Profesional
Semua itu intinya adalah agar anak kita dapat bermanfaat bagi umat. Oia, khusus untuk anak laki-laki, tujuannya bertambah:

Pendidik istri dan anak
Pengayom keluarga
Haa, siapa bilang punya anak laki-laki lebih gampang hayooo???? *ketawa puas*

Sejujurnya, rada tertampar juga dengan tujuan pengasuhan ini. Selama ini saya lebih fokus di nomer 4 saja, dengan memperhatikan pendidikan, kesehatan, pemilihan sekolah, dsb. Padahal mendidik anak yang sukses secara profesional hanya bagian kecil dari kesuksesan individu. Tujuan nomer 2-3 malah sering dilupakan. Coba ngacung yang waktu kecil diajarin masak dan ngurus rumah oleh ibunya, saya sih ga pernah sama sekali, hehee….

Terakhir, bu Elly menjelaskan mengenai Peran dan Fungsi Ayah

Menurut beliau, anak Indonesia banyak yang fatherless. Padahal anak yang fatherless cenderung menjadi nakal, agresif, terjerumus narkoba dan seks bebas (anak cowo) atau depresi dan seks bebas (anak cewe). Oleh karena itu, yuk kita kembalikan dan kuatkan fungsi ayah dalam pengasuhan.

Riset membuktikan, kalau anak cewe kurang mendapatkan sentuhan pengasuhan dari ayahnya, dia akan merasa tidak memiliki harga diri, dan mencari pujian dari laki-laki lain (pacar, pergaulan, dll). Sebaliknya, anak cowo yang kurang mendapatkan sentuhan ayah akan lebih banyak terpengaruh ibu, dan pada akhirnya otaknya cenderung jadi kekanan-kananan, alias ke perempuan2an. Hiii….

Selanjutnya Bu Elly membagikan beberapa kiat pengasuhan. Disini udah mulai cape nyatet niih, jadi dibikin poin-poin aja yaa….:

Anak perlu validasi atau disebut 3P (Penerimaan, Penghargaan dan Pujian). Jangan sampai anak hanya disebut kalau berbuat salah saja, tapi saat ibunya salah atau anak berbuat baik tidak mendapatkan penghargaan.

Sebelum memberikan anak segala sesuatu (mainan, ipad, tontonan, aktivitas, dll) perlu diingat agar kita selalu memperlakukan anak secara patut. Patut disini adalah secara usia, kepribadian, agama dan nilai sosial. Misal, kita memberikan ipad yang isinya games anak mengenai matematika (tambah kurang) di usia balita. Ini tidak sesuai dengan perkembangan otak anak yang di umur 0-6 tahun hanya bisa menangkap hal-hal yang bersifat konkrit.

Pendidik yang baik adalah yang bisa menempatkan diri 2-3 tahun diatas anak yang dididik.

Kita tidak bisa melindungi anak terus, makanya bekali dari rumah, khususnya kemampuan R (Reason) dan W (Why). Jelaskan alasan ke anak, mengapa ia dilarang begini begitu. Misal anak dilarang melihat pornografi karena bisa menyebabkan kerusakan otak. Jelaskan otak bagian mana yang rusak, dan dampaknya apa. Selanjutnya ajari anak dengan roleplay, hingga jika saat di luar rumah ia menemukan hal-hal yang sudah ia ketahui keburukannya, ia bisa melawannya.

Sebagai penutup, Bu Elly meminta agar semua peserta seminar men-share hasil seminar ini, setidaknya kepada:

Saudara kandung, adik dan kakak kita yang memiliki anak.
Orangtua teman-teman sekolah anak kita.
Orangtua dari teman main anak di sekitar rumah.
Intinya, supaya kita bisa saling menguatkan dengan lingkungan sekitar. Kenapa? Karena kita ga mungkin ngunci anak-anak kita di rumah dan ga boleh main sama anak lain. Jadi kita share ilmu yang kita punya supaya orangtua dari teman dan saudara anak-anak kita punya pengetahuan dan kepedulian yang sama. Yuk ah, kita terus belajar menjadi orangtua….