Takziah ke Rumah Doni

Pukul 06.03

HP berdering. Memang sudah menjadi rutinitas, hampir setiap pagi beberapa wali santri menanyakan kondisi putra mereka. "Halo, Assalamu'alaikum," suara diseberang membuka pembicaraan. "Walaikum salam," jawabku singkat.
"Maaf pak, saya pamannya Doni. Begini pak, tadi pagi orangtua Doni meninggal dunia."
"Inna lillahi waina ilahi rajiun,' sahutku.
"Saya sudah menghubungi saudara saya di Jepara tapi nggak nyambung-nyambung. Tolong Pak, sampaikan ke Doni hari ini dia harus pulang tapi jangan kasih tahu kalau ayahnya meninggal," suaranya terdengar terburu-buru.
"Insya allah nanti akan kami antar Pak," aku terpancing gaya bicaranya yang simpel.
---
Hari masih pagi, namun suasana sudah mulai ramai dengan lalu lalang para pelajar yang tak ingin terlambat sampai di sekolah. Aku sendiri agak telat sekitar 10 menit dari waktu yang telah ditentukan.

Gemuruh dzikir al matsurat pagi menyapa kadatanganku. Laboratorium sekolah yang disulap untuk ruang dzikir dan shalat tertutup satu sisi pintunya. Satu dua anak ikhwan berlari kecil menuju pintu laboratorium yang dijaga beberapa ustadz. Mereka menyalami dan mencari tempat yang nyaman untuk menyaru dalam jamaah yang larut dalam bait-bait doa dan salawat. Sambil turut komat-kamit, aku masuk ke kantor akhwat mendekati pengeras suara. Sesaat setelah pintu laboratorium terbuka anak-anak ikhwan keluar tanpa beraturan. Melalui pengeras, kusebut nama ketua OSIS untuk segera datang ke kantor.


"Tolong antum mengajak beberapa kawan untuk mengumpulkan sumbangan. Ada saudara kita yang terkena musibah," seruku kepada ketua OSIS. "Siapa pak?" tanyanya. "Sudahlah... nanti antum tahu sendiri," jawabku sambil sibuk mencari nomor telepon salah satu guru yang terbiasa menyopir.
---
Pukul 08.55
Beberapa kali mobil yang kami kendarai harus beradu dengan batu-batu jalan yang bertaburan. Jalan berlubang, genangan air semakin memperlambat laju kendaraan. Untunglah, selama perjalanan cuaca begitu nyaman. Sedikit mendung.
Doni dan Alfian duduk dibangku belakang. Di bangku tengah Kepala Sekolah dan Wali Kelas VIIIB duduk berdampingan. Sementara aku duduk di depan menemani supir.
Perjalanan menuju Gayabaru

Tak banyak yang kami obrolkan sepanjang perjalanan. Sesekali kami mencoba memberikan pertanyaan kepada Doni agar ia lebih rileks. Sejak awal keberangkatan, ia sedikit menaruh kecurigaan kepada kami. Tapi ia tak menanyakan kepada kami maksud kami mengajak dia kerumahnya.

"Ustadz, belok..belok," teriak Doni memecah keheningan perjalanan. Kami terlewat beberapa puluh meter dari jalan yang seharusnya kami tempuh. Rute yang kami lewati kini semakin sempit. Di beberapa tempat terdapat turunan dan tanjakan yang lumayan tinggi dengan kondisi jalan yang telah rusak. Kami terus mengajak Doni bercakap-cakap agar ia tidak tegang. Beberapa pertanyaan yang diberikan oleh Kepala Sekolah bahkan tak direspon oleh Doni. Aku menoleh kebelakang, tersenyum padanya sambil memuji bahwa daerahnya begitu nyaman dan asri.
Sebenarnya aku juga semakin was-was, sambil terus selidik setiap rumah yang ada di depan kami. "Sebentar lagi sampai," kata Doni. Aku semakin was-was, membayangkan bagaimana reaksi Doni ketika sampai nanti.

"Ada apa ustadz?" tanya Doni. Halaman rumahnya ramai dengan laki-laki dan wanita. Di samping rumah terdapat dua penampung air dengan selang air yang terurai kesana kemari. Aku bersegera turun. Beberapa laki-laki langsung menghampiri kami, satu diantaranya langsung memapah Doni. Menggenggam lengannya sambil berucap, "sabar..sabar." Alfian yang dari awal juga tidak tahu persis maksud kunjungan kami kuminta agar terus menemani Doni. Ia faham bahwa salah satu keluarga Doni ada yang meninggal walau tak tahu persis siapa.

Kami disambut beberapa lelaki cukup umur. Sementara Doni dan Alfian serta beberapa laki-laki yang menyambut kami lewat pintu samping. Kami masuk kedalam rumah. Menatap jasad yang tertutup kain batik panjang berwarna coklat. Kubuka perlahan. Wajah yang sudah sangat aku kenal. Kutatap dalam-dalam. Ia diam, tampak begitu tenang. Sedikit senyum bahkan. Beberapa detik kemudian kututupi kembali wajahnya.

Suara tangis pecah di ruang sebelah. Tidak satu atau dua, banyak. Tak kudengar suara lelaki atau suara Doni yang sudah kuhafal. Mungkin karena kalah keras dari para wanita. Aku tidak tahu. 

Kami bertahan di ruang tamu, disamping jasad. Lelaki dengan rambut yang sudah mulai memutih bercerita banyak kepada kami. Airmatanya terus berurai, sambil sesekali menyekanya. Belakangan kami tahu bahwa ia kakek Doni. "Ini adik Doni," kata sang Kakek. "Doni anak pertama, ini adiknya. Dan yang kecil baru berumur selapan dinten (35 harian)," ungkapnya. Mungkin itu yang membuat ia nampak sangat kehilangan menantunya itu. 

Tak lama, beberapa wanita keluar dari ruang belakang. "Seng tatak yo le, sabar...," salah satu dari mereka menghibur Doni yang  matanya kelihatan sembab. Doni berdiri tertegun di samping jasad ayahnya. Ia diam. Matanya berkaca-kaca. Demikian juga Alfian yang dari awal kami minta untuk mendampingi Doni. Kain penutup dibuka perlahan. Doni menatap wajah Ayahnya dalam, dalam sekali. Tak ada tangis, hanya sedikit isak. Perlahan Doni mengecup kening Ayahnya beberapa kali. Masih tak ada tangis. Namun airmata tak sanggup menutupi kepedihan hatinya. Derainya justru yang membuat beberapa wanita mulai terisak-isak dan menjadi tangis. Kembali Doni mengecup wajah sang Ayah, untuk yang terakhir kali. Alfian terus memeluk pundak sahabatnya, menguatkannya walau ia juga tak kuasa membendung airmatanya.
---
Pukul 14.04

Pelayat sudah kasak-kusuk. Mengapa para pekerja penggali makam begitu lama menyiapkan liang lahat. "Harusnya dua jam sudah selesai," ucap Bapak tua yang ada disampingku. Kami harus menunggu cukup lama. Hujan gerimis menambah suasana berkabung menemukan tempatnya.
Menjelang pemberangkatan



Keranda yang tertutup kain berwarna hijau dengan rumbai bunga warna-warni diangkat ke tengah halaman. Sebelum diberangkatkan, ada sedikit seremoni dari ulama setempat. Seluruh keluarga berdiri disamping keranda. Yang tidak kelihatan hanya si kecil yang masih berumur satu bulanan. Kelak hanya dirinya yang tidak bisa merupa wajah ayahnya. Jenazah kemudian diusung ke mushola yang tak jauh dari rumah duka. Disholatkan dan kemudian dibawa kepemakaman. Arak-arakan pelayat memanjang di jalan berbatu yang basah terkena air hujan. Kami menghantar hingga ke pemakaman yang tidak begitu padat. Prosesi berjalan khidmat.
Alfian di komplek pemakaman

Kami kembali ke rumah duka. Kemudian disusul para pelayat yang lain. Tak lama kemudian kami berpamitan. "Maaf Pak, kami mau pamitan, Doni-nya di dalam ya?" tanyaku kepada kakek. Sang Kakek kemudian masuk kedalam rumah dan kembali lagi bersama Doni kemudian disusul Ibunya dari belakang. Masing-masing kami memberi pesan kepada Doni, menyalami dan memeluknya. Wajahnya masih kelihatan sedih. Matanya sembab. Ia masih mengiyakan sambil tersenyum saat kami memberi nasehat padanya. Namun,kembali ia tak kuasa menahan derai airmata saat Alfian memeluk dirinya. Kedua sahabat itupun seolah tak ingin melepas satu sama lain. Kembali haru menyelimuti suasana.
Doni Prastyanto saat PEMIRA

Dari dalam mobil yang berjalan perlahan, kami melambaikan tangan, dibalas dengan lambaian yang tak bisa kami gambarkan apa perasaan dibaliknya. Mereka semua tersenyum pada kami tapi kami tahu bahwa ada duka yang mendalam yang menghimpit dada. Doni yang mengenakan baju koko putih menunjukkan kepada kami bahwa saya baik-baik saja, saya tegar. Dan kami belajar darinya bagaimana menghadapi ujian. Sepanjang perjalanan pulang ada diskusi antara aku dan Bapak Kepala Sekolah. Berandai-andai tentang hari-hari Doni selanjutnya, terutama ketika ayahandanya sudah tiada.

Ahh..Allah Maha Kaya, gumamku dalam hati.
---
Catatan takziyah ke rumah duka di Gayabaru. Sebenarnya keluarga Doni tinggal di Bratasena. Ketika Ayahnya jatuh sakit mereka tinggal bersama kakek di Gayabaru. Jadi kami belum bersilaturahmi di kediaman mereka di Bratasena. Insya allah lain kali akan berusaha untuk bisa berkunjung.